Februari, 11/26

Teriakan

Aku terbangun terlalu siang hari ini. Jam menunjukkan 10 tepat. Kubuka mataku, kantuk masih saja menempel. Memaksa diri untuk bangun, melangkah gontai menuju kamar mandi. Mencuci muka, dan kembali ke kamar. Hari ini tak ada jadwal apapun dalam agendaku. Tak ada yang kulakukan selain mengambil handphone, membuka berbagai aplikasi untuk melihat update terbaru. Ketika tak ada yang menarik, aku menutupnya. Berjalan menuju meja makan, melihat lauk yang tersedia disana, tak tahan perutku untuk tidak menyarap semuanya. 

Duduk di kaki tangga, menatap halaman rumah dengan langit dan suasana perkampungan seperti biasanya. Tetangga depan rumahku membuka warung, tak aneh jika ada banyak orang berlalu-lalang di depan sana. Aku hanya memerhatikan lewat bayangan di jendela rumah. Tanganku memegang gelas berisi air putih segar, menyejukkan badan setelah makan yang begitu nikmat. 

Aku bertanya-tanya dalam hati, kegiatan apa yang harus kulakukan berikutnya ya. Liburan setelah masa belajar yang menguras pikiran dan mental itu seharusnya terasa indah dan nyaman, karena akhirnya masa tenang itu hadir. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, seperti air yang membeku dalam lemari es. Hanya itu yang ia tahu, menjadi es batu yang dingin dan beku. Tidak ada perubahan lain selain diam. Kebingungan selalu muncul ditengah situasi liburan yang tidak diisi dengan agenda apapun. Sepi dan membosankan. 

Pikiranku kembali melayang pada waktu yang terbatas. Ada yang harus kulakukan sebelum memasuki masa kuliah lagi, membayar uang kuliah. Beban akan tanggung jawab yang memang seharusnya sudah bisa aku pikul sendiri, tapi aku belum bisa berdiri di kakiku sendiri. Aku bergantung pada keluargaku. Aku hanya menjadi beban saja.
 
Semua terpikirkan olehku, duduk disana dengan segala pikiran yang berlari tak terarah. Mungkin aku harus mulai mencari pekerjaan sampingan. Mungkin aku bisa mencoba berjualan sederhana di rumah, seperti orang-orang lewat online shop, misalnya. Atau mungkin remote worker, ya? Tapi aku belum punya skill, harus belajar dulu. Kalau bulan ini aku gak bisa bantu buat menghasilkan uang, apakah aku berhenti kuliah aja ya? Biaya kuliah terlalu besar jika dikejar dalam waktu beberapa minggu saja tanpa ada sesuatu yang bisa kulakukan. Rumah pun mempunyai biayanya tersendiri. Apa yang harus aku lakukan? 

Aku masih terduduk diam di tempat yang sama saat kulihat ibuku keluar dari ruangannya. Kuperhatikan langkahnya mulai berbeda hari ini. Ada hentakan kuat dalam ketukan langkahnya, raut wajah yang mengeras. Sesuatu terjadi. Saat ibuku pulang kerja beberapa menit sebelumnya, raut wajah dan suasana masih terasa baik-baik saja. Apakah itu berubah setelah melihat ayahku? Sesuatu terjadi lagi? 

Ayahku mengidap diabetes sejak beberapa tahun lalu. Keadaannya mulai memburuk sejak masa Covid-19 marak sekali. Ia tidak terjangkit, namun di masa yang bersamaan dengan itu, penyakit bawaannya itu membuatnya sakit selama satu bulan penuh. Seluruh tubuhnya berubah drastis, tidak lagi kuat seperti sebelumnya. Kurus dan tampak lesu. Satu bulan setelahnya ia sembuh, hidupnya berjalan seperti biasanya, namun usia dan penyakitnya tak bisa berbohong jika ia tetap kesakitan. 

Aku masih di bangku SMA saat itu, tak terlalu memahami betapa serius kondisinya. Saat ayah kembali sembuh, aku hanya merasa semuanya memang terjadi karena sakit adalah hal yang normal bagi manusia. Tak pernah aku sadari bahwa penyakit itu bisa membawanya pada keadaan yang lebih serius lagi. 

Hingga aku memasuki jenjang perkuliahan, aku masih memercayai bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ayahku memang sering sakit-sakitan, namun tidak separah seperti beberapa waktu sebelumnya. Segalanya lagi-lagi terasa berjalan baik, sampai suatu hari kulihat satu notifikasi yang tidak biasa. Kakakku menelfon. Saat itu aku sedang mengikuti magang di suatu instansi dan baru membuka handphone pada saat istirahat. Awalnya aku berpikir mungkin hanya ada keperluan mendadak soal urusan rumah yang sepele. Jadi kuabaikan saja notifikasi itu dan pura-pura tidak melihat. Sampai saat kulihat status WhatsApp kakakku yang lain, seseorang terbaring di ranjang rumah sakit. Ayahku. 

Lagi-lagi aku berpura-pura baik-baik saja di depan teman-temanku yang lain. Kepalaku berputar keras memikirkan segala kemungkinan dan hal yang harus kulakukan. Ayahku atau pekerjaanku? Hari itu, aku lebih memilih pekerjaanku hanya dengan alasan bahwa aku sering kali izin dan merasa tidak enak jika harus kembali meminta izin. Padahal ayahku seharusnya menjadi situasi darurat yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Aku menahan diri, menahan tidak bercerita kepada temanku meski mereka bertanya. Aku melakukannya karena merasa jika aku bercerita, aku lemah. Aku berusaha fokus dan kembali bekerja dengan baik, padahal pikiranku terus melayang pada satu bayangan di rumah sakit. Tapi, di balik semua pertahanan diri yang kuputuskan untuk kupilih itu, ada kebencian dan kesedihan yang terus berusaha mendominasi isi pikiranku. Ada harapan paling buruk yang terlintas, sekaligus harapan akan sebuah keajaiban. 

Ayahku terkena stroke berat dengan sebelah tubuhnya lumpuh, tak bisa lagi merespon pun bergerak. Bahkan berbicara pun ia tak lagi mampu melakukannya. Hingga hari ini, keadaannya belum bisa pulih sepenuhnya. 

Dalam periode pemulihannya, satu hal kami temukan. Entah semesta yang sudah mengatur segala kejadian dengan begitu sempurna, atau sekedar akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya. Kartu ATM ayahku ditemukan, dan kejanggalan terjadi. Sejak kapan ayah mempunyai kartu ATM? Keberadaannya pun tidak diketahui. Ayah tidak menyimpan kartunya. Setelah penelusuran lebih lanjut, uang gaji ayahku yang ditransfer ke dalam ATM-nya, hilang. Hingga ditemukan sebuah nama, nama penerima transferan berikutnya. 

Dari sanalah titik awal yang membawa duniaku pada kejadian hari ini. Ibuku melangkah mendekati ayahku, mengatakan satu dua kalimat yang sudah beberapa waktu berhenti. 

“Tega kamu! Sepuluh tahun! Selama ini aku begitu percaya, hingga kepercayaan itu kamu hancurkan begitu saja! Aku tidak akan pernah rela!” 

Teriakan amarah yang tak lagi tertahankan. Tangisan yang tak lagi terbendung. Ucapan yang kehilangan batasnya. Semuanya runtuh begitu saja. Dunianya hancur, begitu pun aku.