Oktober, 19/25
Bising
Pagi ini aku terbangun. Tangisan anak kecil terdengar. Aku merutuki suara dalam diri. Seharusnya kakakku bisa lebih tegas terhadap anaknya. Seharusnya kakakku bisa menghadapi anaknya. Seharusnya kakakku bisa lebih menguasai anaknya. Tangisan dan teriakannya bukan karena ia bersalah apalagi tidak menuruti perintah orang dewasa di hadapannya. Ia menangis karena ia tidak tahu mengapa ia harus selalu disalahkan. Ia menangis karena tidak tahu kenapa selalu berakhir disalahkan. Menyedihkan.
Satu lagi teriakan terdengar. Ayahku kesakitan, ibuku kesal karena kelelahan akan segala pekerjaan yang harus dilakukannya. Aku terlelap kembali. Aku memilih menutup telinga, mendengarkan musik, memejamkan kembali mata. Tak ingin kudengar teriakan apa pun, hanya alunan musik kesukaanku.
Semuanya seakan berhenti. Aku tak mendengarkan teriakan apa pun. Suara di kepala yang semakin lantang berteriak. Garis-garis kehidupan seakan berjalan cepat di antara saraf-saraf kepalaku. Masa lalu, masa kini, masa depan. Semuanya bertemu dan bertabrakan, tak tahu jalan mana yang harus dilalui masing-masing.
Merah, kuning, hijau, warna yang sama seperti lampu di setiap pertigaan jalanan. Ketiga warna yang menjadi pengingat di setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Berhenti di setiap waktu yang terasa seperti teriakan yang menggema di setiap penjuru ruangan. Bersiap setiap kali erangan kesakitan terdengar. Melaju saat diri perlahan menerima segala yang terjadi.
Siapa yang tidak membenci teriakan amarah dan kesakitan? Bukankah begitu? Amarah dan kesakitan. Teriakan yang menggema bisa berarti keduanya. Ada amarah yang memanas dalam diri, keinginan untuk menguapkan lewat teriakan begitu memuncak. Atau kesakitan yang terasa dalam diri, membuat tenggorokan terasa panas dan ingin mengeluarkan kecaman nada yang tak tertahankan. Aku membenci setiap jengkal suara yang terdengar di ruangan ini. Tak ada suara-suara lembut yang menenangkan. Tak ada.
Kemana kah aku harus melangkah? Mencari sebuah suara yang menenangkan diri. Menemukan sesosok jiwa hangat yang dapat memeluk diri di kala panas api membara begitu kuat. Menahan segala kecamuk dalam diri sendirian. Memendam segala kalut yang terjadi dalam kesendirian. Semuanya kulakukan sendirian, tanpa seorang pun.
Sudah kukatakan pada diri, aku lelah, sangat lelah dengan segala hal yang terjadi. Hari kemarin menjadi puncak kelelahan yang kurasakan satu minggu terakhir. Aku tidak ingin air mata kembali menurunkan dirinya di wajahku. Badanku sudah seperti remuk dihantam baja kuat. Rasanya begitu berat hanya untuk membangunkan diri bahkan setelah beristirahat semalaman penuh.
Tapi hari ini, air mata itu tak bisa lagi dibendung. Rasa sakit dalam diri masih terasa begitu menyakitkan, fisik dan batin rasanya masih begitu berat.