September, 14/25
Ingin sekali aku berhenti memikirkan orang lain, memikirkan apa yang akan mereka pikirkan tentang diriku. Ingin sekali aku memfokuskan segala hal, segala pikiran, segala sikap dari diriku, untuk diriku sendiri. Lelah sekali rasanya jika harus terus-menerus hidup dalam bayang-bayang manusia yang entah dimana kepastian dan hubungannya buatku.
Kali ini, dengan fase baru ini--yah setidaknya aku merasa begitu--kumulai dengan alunan musik dari seorang penyanyi yang sudah kukenal sejak lama, namun sama sekali tak memiliki ketertarikan. Hingga satu hari kutemukan lagu yang mengubah segala hal pandanganku tentang nilai seninya. Dengan diiringi musiknya, aku menuliskan keinginanku hari ini.
Tapi, jauh dari semua itu, hal paling berharga buatku adalah di tengah alunan dan irama setiap detiknya aku merasakan kehidupanku. Aku merasa hidup. Aku merasa menjadi diriku dengan segala hal yang ada di dalamnya. Aku merasakan cahaya terang seakan membuka pintu yang begitu lebar untuk kumasuki perlahan-lahan.
Mimpi-mimpi yang pernah terkubur, mimpi-mimpi baru yang bermunculan, semuanya menjadi satu dan tampak mengudara kembali dalam diriku. Ia memperlihatkan keindahan mimpi yang pernah kutangkap. Memperlihatkan kembali kesenangan yang pernah menarikku ke alam impian.
Benang-benang takdir seakan menarikku pada masa-masa indah, masa-masa hidupku yang begitu berwarna, masa hidup yang gelap. Semua seakan terbawa kembali ke udara hari ini. Mendengarkan seribu detik alunan musik, kilasan-kilasan masa lalu, keributan pikiran, kekacauan rumah, semuanya bersatu membentuk hidupku hari ini.