November 2024


Hari itu aku melihatnya. Dalam satu tarikan napas, kilasan mata, aku tertarik pada magnet yang ia pancarkan. Sambil sekali dua kali meliriknya, aku mencoba mencari cara untuk mendekatinya dan berinteraksi. Ide itu pun mewujudkan dirinya.

Kurogoh isi tasku dan mencari charger handphone. Satu dua langkah menuju meja dosen, kulihat masih ada ruang kosong yang bisa kuisi untuk charger. Jarak antara aku menuju stop kontak itu cukup jauh, ya setidaknya membuatku sedikit kesulitan untuk mencapainya. 

"Eh, boleh minta tolong cas-in hapeku enggak? Jauh soalnya."

Sosok itu tak mengiyakan maupun menolak, langsung saja mengambil handphoneku dan mencharger.

"Sip. Makasih."

Sosok yang dingin. Tak ada ekspresi yang tampak diwajahnya. Tak ada senyum ataupun ramah tamah khas interaksi manusia. Yah, tak jauh berbeda denganku yang sedang jatuh cinta itu. Merasa gugup, tak tahu harus bersikap seperti apa, pun tak berani menatap mata itu. Tapi, meski hari itu tak berani menatapnya dan dengan lantang mengatakan terimakasih, aku tahu bagaimana bentuk tatapan itu. Karena hari itu, bukan menjadi hari terakhir interaksi kita, ada banyak hari-hari di depan dengan kilasan interaksi kita, walau hanya lewat kilasan pandangan.

Kata teman-teman kelasku yang lain, kita mirip. Aku sedikit kaget ketika mereka mengatakan itu secara tiba-tiba. Apalagi waktu itu sedang dalam acara orientasi jurusan. Ia di barisan belakang bersama teman-temanku, aku berada di barisan paling depan. 

"Mut! Mutma!", kayaknya seseorang manggil aku ya? Siapa? Kulihat kanan-kiri tak ada ciri-ciri seseorang memanggilku. 

"Mutma!" Siapa sih? Kulihat barisan belakang dan kutemukan teman-temanku sedang berbisik-bisik disana. 

"Tuhkan! ihhh! Mirip tauu." Lontar temanku. "Ih, iya, kok mirip sih."

"Eh mut, kamu punya kembaran ya disini." Temanku itu, memberiku pertanyaan tiba-tiba semacam ini, tak pernah aku bayangkan sedikitpun sebelumnya.

"Hah? Kembaran? Di sini? Gak ada! Apasih kalian gak jelas deh." 

"Itu liat deh, itu kembaran kamu. Mirip kan?" 

Mereka menunjuk satu orang. Kulihat arah petunjuk mereka dan aku menangkap sesosok itu. Sosok kembaranku yang mereka maksud dan sosok yang kukagumi. Mereka orang yang sama. Ternyata dia. 

Bagaimana bisa mereka dengan sangat tiba-tiba menyebut kita kembaran? Sedangkan semesta pun tahu apa yang kurasakan tiap kali berpapasan dengannya. Impossible! 

Senang tentu saja jadi perasaan yang pertama kali kurasakan saat itu. Merasa seakan semesta sedang mendukung perasaanku padanya. Meski hanya lewat hal sekecil dan seacak itu. Entah atas dasar pikiran apa yang membuat semesta memberiku satu macam trik kesenangan seperti itu. Apakah kali ini semesta sedang merencanakan sebuah takdir untukku? Ataukah kembali menyusun ulang cerita masa lalu dengan versi yang berbeda?