Juni, 18/25





Suatu ketika, aku berhenti di salah satu perhentian lampu merah. Itu lampu merah kedelapan dan terakhir yang selalu kutemui jika hendak menuju kampus. Satu musik terdengar mengalun, pelan kudengar sambil bertanya musik apa itu. Apakah musik yang kukenali? Ataukah musik asing yang tak pernah kutemui sedikitpun? Perlahan dunia memudarkan bisingnya, hingga terdengar kata per kata terucap dari sang penyanyi jalanan. Di depanku berdiri dua manusia yang sedang membuat pertunjukkan musik mereka. Ternyata aku mengenalinya. Aku mengenali alunan musik itu.

Tanpa kusadari dan tanpa sempat kutahan, air mata perlahan menjatuhkan dirinya. Aku menangis pagi itu. Hatiku begitu hangat mendengarkan setiap kata yang terucap dari alunan musik itu. Pikiranku begitu hancur melihat apa yang sedang terjadi dalam hidupku. Kilatan samar dan cepat terus melesat dalam kepalaku, melukis memori-memori yang pernah hilang. Ia munculkan banyak ingatan dalam benak.

Musik berhenti mengalun, lampu hijau mulai terlihat. Perlahan kujalankan kendaraan, dengan hati yang sudah tidak karuan. Menyusuri jalanan kota pagi itu menjadi hal yang begitu berat. Dinginnya yang selalu menusuk tulang, syahdunya suasana membuat hatiku merasa hangat.

Satu kalimat kemudian muncul begitu saja dalam kepalaku, “ternyata dunia memang indah ya?”. Untuk pertama kalinya aku merasakan suatu kehidupan yang nyata sekali. Bisa kurasakan segalanya begitu nyata indahnya, bukan hanya ilusi yang dengan sengaja kulukiskan.

Aku melihat banyak manusia yang nyata hari ini. Mereka semua dengan pekerjaan dan bising kepalanya masing-masing. Kita beriringan berkendara menyusuri jalanan kota di pagi hari yang dingin. Kulihat seorang lelaki tua dengan motor tuanya berusaha berjalan meraih tujuannya. Entah kemana ia akan menuju, namun ingin sekali kukatakan semangat untuknya. Seorang lelaki tua lainnya kulihat membawa tas dibelakangnya, mengendarai sepeda, entah hendak pergi kemana. Banyak manusia kulihat pagi itu.

Jika saja aku tidak mempunyai ketakutan-ketakutan untuk mengucapkan sepatah kalimat penyemangat, mungkin kalimat-kalimat itu sudah terlontar banyak sekali dariku. Akankah banyak manusia yang kemudian menjadi semangat setelah kuteriaki mereka semangat? Tidakkah mereka merasa aneh karena tiba-tiba ada seorang manusia asing lewat di depannya, menyemangati mereka?

Ah, satu manusia lagi kuingat dengan jelas. Hari itu, sebelum menemui penyanyi jalanan di lampu merah terakhir, aku melihat satu orang lelaki tua yang memegang banyak sekali koran. Aku menyimpulkan mungkin ia sedang menjual koran. Ia berdiri di pinggir jalan ketika orang-orang sedang menunggu lampu merah berubah hijau. Seketika benak dalam diriku bereaksi, 

“Ayo beli saja korannya, meskipun kamu belum tau akan digunakan apa, tapi koran akan selalu bisa digunakan untuk apapun. Kamu pasti akan memerlukannya, meski bukan sekarang.”

Haruskah kukatakan “Permisi bapak, itu korannya berapa? Saya mau beli”? 

Tapi bagaimana jika bapak itu ternyata bukan menjual koran? Atau bagaimana jika koran itu ternyata mahal dan aku tidak membawa uang yang cukup? Dan bagaimana jika ada orang lain yang melihatku melakukan itu? Kayaknya bakalan kelihatan aneh, mereka pasti bakalan berpikir aku sok baik, atau mungkin mereka akan menilai kalau aku hanya mengasihani bapak tua itu.

Pikiranku terus bergelut, tanganku tak melepaskan lajuan motor. Sambil terus berpikir, aku melajukan motor dan perlahan melewati bapak tua itu, meninggalkannya dengan tatapan nanar dalam mataku. Hatiku merasa sakit. Bukan karena mengasihani seorang bapak tua, tapi mengasihani diri karena lagi-lagi ia dikalahkan oleh ketakutan-ketakutan yang muncul dalam dirinya.