Mei, 29/25
Aku kehilangan rasa akan semua hal yang
kusukai. Menjalani hidup kini terasa begitu hambar. Jangan bandingkan dengan
orang lain yang sudah melesat jauh ataupun tertinggal di belakangku! Mereka
jelas bukan aku, dan aku bukan mereka. Bukan perbandingan yang kubutuhkan saat
ini. Hanya semangat untuk menjalani kehidupan dengan selayaknya.
Setiap hari kulihat manusia dengan hidupnya
yang indah bagai raja dan ratu. Kesal tampak jelas dalam mataku. Hati gelisah
memikirkan masa depannya. Perlahan benak mulai berpikir dan memutuskan,
menyerah saja kali ya? Untuk apa pula aku terus berjalan dan bertahan jika
kebahagiaan tak kunjung kurasa, jika mimpi tak kunjung kukejar. Tak pernah ada
keberanian dalam diri. Tak pernah ada imaji keindahan dalam melihat dunia,
hanya ketakutan. Diriku berubah menjelma bayang ketakutan yang tak berujung.
Gelap ruanganku tak jauh berbeda dengan duniaku
saat ini, hanya ada seberkas cahaya yang tidak berguna. Tak ada, tak ada
keindahan yang bisa kulihat. Apakah kamu bisa melihatnya? Keindahan dalam
kegelapan? Kesesakan akan benak yang tak henti bergemuruh. Benang kusut dalam
kepala yang semakin membelit. Tanganku mencoba mencari, namun hanya hitam yang
ia dapatkan.
Kemarahan kembali memuncaki alamnya. Tak ada
bahagia yang ingin ia cari. Tak ada cara yang ia dapatkan. Dunianya berhenti
hari ini. Ingin sekali ia selesaikan secepat mungkin. Tak ada harapan yang ia
lihat. Entah dimana keberadaannya sekarang.
Siapakah yang berada disampingnya saat ini jika
hanya kehangatan suara hujan yang ia rasakan? Ia merasakan kesendirian mulai
menyerang kembali.
Kehampaan tertinggal jauh di dalam dirinya.
Kupikir ia sudah pergi. Bisakah ia bertahan kembali?
Beberapa waktu berlalu, aku memuakkan diri pada
dunia. Segala tentangnya begitu penuh, membuatku ingin menerbangkan semua.
Tapi, yang kulakukan hanya menguburnya. Suatu saat ia akan bangkit kembali.
Kujatuhkan kembali diriku hari ini.
![]() |
| Sinar yang kulihat pagi itu membawa kehangatan. |
