Februari, 5/25
Lima Februari, cuaca terlihat begitu cerah di luar sana saat kubuka tirai jendela. Aku terbangun terlalu lama. Pertanyaan yang selalu terlontar dalam kepalaku sesaat setelah bangun,
'Kenapa lagi-lagi aku bangun se-siang ini?',
'Ah, aku harus melakukan apa hari ini?'.
Keseharianku yang buruk.
Setelah segala rutinitas bangun tidur itu kuselesaikan, aku mencoba menghibur diri dengan mengambil sebuah buku. Banyak rencana dalam kepala yang sudah kubuat untuk menyamankan diri saat membaca buku. Aku tidak ingin membacanya di kamarku. Membosankan.
Pada akhirnya, aku memilih tempat yang bagus di teras rumah meski dengan segala bising manusia yang berlalu lalang, angin yang berteriak sangat kencang hari ini, dan hujan yang turun tidak seperti biasanya. Ya, langit hari ini tidak jelas. Hujan ia turunkan bersamaan dengan panas matahari bersinar di atas sana. Tidak jelas deh.
Kucoba mainkan musik sambil membaca. Ternyata aku memang bukan manusia yang bisa mendengarkan sambil membaca, jadi kumatikan saja musik itu.
Satu setengah jam berlalu, tulisan-tulisan dalam buku itu tidak menarik minatku. Aku lelah dan berniat istirahat sejenak setelah bertarung dengan isi tulisan-tulisan itu.
Ingin kubuat kopi sebelum melanjutkan kembali sesi membaca. Segelas kopi berhasil kuseduh, hanya tinggal kutambahkan kembali air dan es. Sayangnya, gelas yang sudah terisi seduhan kopi itu harus terjatuh saat tiga es sudah kumasukkan dan menunggu es lainnya juga sedikit air.
Apakah kepalaku sedang sibuk sekali sampai kopi saja bisa kutumpahkan? Lagi-lagi aku hanya terdiam, menarik napas panjang, memasang muka kesal, dan menghembuskan kembali tarikan napas.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku. Tentu saja mengambil lap lalu membersihkan semuanya! Aroma kopi yang kusukai tercium pekat saat kubersihkan lantai yang penuh dengan genangan kopi.
Tiba-tiba saja aku merasa ingin menangis dan begitu sedih saat kulihat segelas kopi yang sudah menyusut isinya.
"Akankah rasanya enak?"
"Bukankah ini masih cukup?"
"Sudahlah.."
Segelas kopi yang begitu kuinginkan dan sudah kubayangkan bagaimana suasana yang akan tercipta ketika aku membaca buku dengan segelas kopi di sela-sela bacaanku. Namun, semuanya harus sirna dan hanya menjadi angan saja.
Seketika suasana di sekitarku terasa begitu gelap. Kesedihan terpancar dalam hatiku. Kekecewaan turut serta hadir di dalamnya. Berusaha kutenangkan dengan mengambil sebuah buku dan menuliskan satu dua kata yang kuharap bisa membantuku.
Ah, aku lupa. Satu musik kumainkan, dan aku terlalu hanyut di dalamnya hingga melupakan sesi bacaanku.
Pada akhirnya, sesi baca maupun kopi itu tidak sesuai rencana yang sudah kubuat. Aku hanya berakhir di sini. Menuliskan suasana.
![]() |
| Jendela menuju dunia |
