Februari, 4/25

Empat Februari, sebuah laptop di atas meja kupindahkan satu jengkal dari tempatnya berdiam semula. Sengaja kubiarkan pindah dengan kuapit bersamaan kedua kakiku. Tanganku terlalu sibuk untuk membuka satu rim HVS. 

Memang kebodohan dan kecerobohan yang kulakukan saat itu. Otak di kepalaku sudah memberi sinyal akan kejatuhan, tapi aku tetap percaya pada kekuatan diriku menahan barang itu tidak jatuh. Tentu saja, fokusku terbagi menjadi HVS dan laptop. Saat fokusku hilang dengan laptop, kejatuhan itu pun tak sempat kuhindari. Tanganku yang sibuk tak memiliki kesempatan meraih atau pun menangkapnya. 

Namun, baguslah kakiku tepat di bawah. Ia kesakitan, dan aku hanya bisa berdiam sambil merutuki diri. Kakiku yang malang. Ia merasakan sakit, tapi tubuhku yang lain hanya diam dan tanganku dengan pelan mengambil laptop yang terjatuh. 

Perlahan aku menarik napasku sepanjang mungkin, lalu kukeluarkan. Mataku sudah memanas. Ternyata tubuhku merespons. 

Tarikan napas panjang itu kulakukan karena aku ketakutan. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimana jika ia kembali mati dan harus diperbaiki kembali? Pikirku. Bagaimana jika ia kembali tidak berfungsi? Tubuhku sedikit bergetar memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin hadir.

Namun, terhenti ketika kucoba menghidupkan dan melihat keadaannya baik-baik. Setidaknya untuk saat ini, begitulah keadaannya.