Januari, 27/25
Ditengah gempuran para dewasa tua, duniaku menjadi terasa begitu sesak. Aku melangkah keluar, mencoba mencari langit yang dapat membuat diri bernapas meski sejenak.
Danau di depanku, langit terang diatasku. Entah mengapa masih terasa menyesakkan.
Kucoba menyusuri jalanan untuk pergi ke tempat yang kuinginkan. Sayangnya, kesempatan memasuki tempat itu tak ada dalam rencana semesta sehingga aku harus kembali dengan membawa langkah berat. Dan, sesak itu perlahan menghilang.
Sesaat sebelum memasuki tempat itu, sempat aku bertanya pada seorang penjaga. Bertanya satu dua hal karena kulihat papan bertuliskan “Tutup” terpampang di depan pintu. Bertanya dan berbicara dengan penjaga itu membuat sesak dalam diriku perlahan menghilang. Karena disana, aku menemukan diriku yang hidup.
Sempat bertanya pada diri “Kemanakah aku harus pergi kali ini?”, ketika tempat yang tadinya kupikir bisa menjadi pelarianku ternyata tidak semesta izinkan. Dengan berjalannya waktu saat dalam perjalanan kembali, kulihat sebuah warung kopi. Terbesit dalam kepalaku untuk mampir sebentar untuk sekalian menunggu waktu selesai. Namun, tak berani kulakukan.
Langkah demi langkah kujejaki hingga sampai di tempatku sebelumnya. Satu yang pasti tidak kuinginkan, kembali ke tempat dimana banyak manusia itu. Kuputuskan berbelok, menuruni tangga dan kutemukan sebuah meja batu dengan pemandangan hijau yang begitu menenangkan.
Aku duduk disana dan hanya berdiam tanpa melakukan apapun.
Hanya dengan duduk berdiam seperti itu, merasakan alam yang sedang menenangkanku, alunan musik yang selalu berhasil memenangkan hatiku. Aku menyukainya.
Aku senang duduk sendirian tanpa melakukan apapun, dengan taman indah didepanku. Tak ada manusia-manusia berisik yang mengusik jiwaku disana.
